Sumber : health.detik.com

Fakta Vaksin Nusantara Undip (Vaksin Dendritik COVID-19)

Fakta Vaksin Nusantara Undip (Vaksin Dendritik COVID-19) – Indonesia saat ini sedang mengembangkan vaksin COVID-19 bernama Vaksin Nusantara. Penggagas vaksin Nusantara, dokter Terawan Agus Putranto SpRad (K) mengatakan, jika pengembangannya berjalan dengan baik, target vaksinnya adalah menghasilkan 10 juta dosis per bulan.

Fakta Vaksin Nusantara Undip (Vaksin Dendritik COVID-19)

Sumber : health.detik.com

cerrrca – Vaksin Nusantara yang digagas Terawan disebut revolusi vaksin. Teraman mengatakan, vaksin tersebut diproduksi secara terpisah.

Mantan Menteri Kesehatan itu mendampingi Komisi IX DPR dalam kunjungan kerja ke RS Kariadi, mengatakan: “Kami sangat senang karena sangat terbuka dan menarik. Revolusi dari konservatif ke vaksin sudah menjadi revolusi pribadi.”

Berikut rincian Fakta Vaksin Nusantara:

1. Vaksin Nusantara Tidak Berniat Menyaingi

Sumber : id.berita.yahoo.com

Tim peneliti vaksin Nusantara, bekerja sama dengan AIVITA Biomedical di Amerika Serikat dan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Terawan menegaskan, keberadaan vaksin COVID-19 Nusantara tidak bisa bersaing dengan vaksin sebelumnya.

Dihimpun dari liputan6.com, Terawan mengatakan pengembangan vaksin Nusantara telah diumumkan pada 12 Oktober lalu oleh tim peneliti uji klinis sel dendritik SARS-CoV-2 dalam surat keputusan Menteri Kesehatan RI HK.01.07 / MENKES / 2646/2020.

Seperti kita ketahui bersama, Terawan masih menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI pada hari itu.

Baca juga : 10 Fakta Virus dan Dampaknya bagi Makhluk Hidup

2. Gunakan Metode Sel Dendritik

Sumber : regional.kompas.com

Yetty Movieta Nency, salah satu peneliti vaksin Nusantara, mengatakan vaksin dikembangkan berdasarkan sel dendritik autologus yang merupakan bagian dari sel darah putih.

Dengan cara ini, vaksinasi bertujuan untuk menstimulasi respons imun spesifik terhadap antigen sinaptik SARS CoV-2.

Sel dendritik menjadi antigen akan divaksin kembali ke dalam tubuh dan memicu sel imun lain untuk membentuk sistem pertahanan memori terhadap virus corona.

“Prosedurnya kita mengambil darah dari subjek, kemudian kita mengambil sel darah putih, kita mengambil sel dendritik, kemudian memasukkannya ke dalam rekombinan virus SARS CoV-2 di laboratorium.

Oleh karena itu, kami kemudian mengenalkannya kepada Yetty, kata: Sel dendritik menjadi lebih pintar. Kita sudah tahu bagaimana cara memprediksi virus ini, lalu kita akan menyuntikkannya lagi.”

3. Diklaim vaksin pertama di dunia yang kembangkan metode sel dendritik

Sumber : id.berita.yahoo.com

Vaksin Nusantara berdasarkan sel dendritik. Yetty mengatakan metode sel dendritik ini merupakan yang pertama di dunia untuk pengembangan vaksin.

Selama ini teknologi sel dendritik masih digunakan untuk pengobatan kanker melalui teknologi rekombinan, yaitu dengan mengangkat sel terlebih dahulu kemudian mengembangkannya secara in vitro untuk menghasilkan vaksin.

Dalam dunia kedokteran, sel dendritik merupakan sel imun yang tergabung dalam sistem imun, proses penggandaan vaksin COVID-19 dan sel dendritik secara bersama-sama akan membentuk antigen khusus kemudian antibodi.

4. Uji Klinis Fase 1 Selesai pada Januari 2021

Sumber : voaindonesia.com

Uji klinis fase 1 vaksin Nusantara telah dilakukan terhadap 27 relawan. Uji klinis fase 1 telah berakhir pada Januari 2021. Para relawan tidak mengeluh setelah divaksinasi.

Yetti menjelaskan: Tahap pertama penentuan keamanan vaksin selesai pada Januari 2021, dengan hasil yang baik, dan 27 relawan vaksin tidak memiliki keluhan yang serius.

5. Uji klinis fase 2 tunggu hasil evaluasi BPOM

Sumber : tirto.id

Vaksin virus corona AV-Covid-19 sudah memasuki uji klinis tahap kedua.

“Kalau sudah diuji, bisa kita manfaatkan. Industri apa yang bisa?” Kata Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kamis (18/2).

Guna mempercepat penelitian uji klinis agar vaksin dapat diproduksi secara massal, Pemprov bermaksud memfasilitasi lokasi penelitian. Menurutnya, vaksin Nusantara dikembangkan di Jawa Tengah hasil karya anak bangsa. Oleh karena itu, penyelesaian proses penelitian vaksin harus terjamin.

Ia mengatakan: “Jika ke depan kami membutuhkan rumah sakit lain sebagai lokasi penelitian, saya siap mendukung sepenuhnya. Untuk itu, saya akan memberikan dukungan penuh kepada tujuh rumah sakit daerah di bawah Pemprov.

Dukungan penuh diberikan karena vaksin Nusantara merupakan karya anak bangsa. Selain itu, vaksin tersebut dikembangkan di Jawa Tengah, sehingga pihaknya akan mendukung sepenuhnya guna memproses dengan cepat penelitian vaksin Nusantara.

“Apalagi ini dari Jawa Tengah. Menurut saya sangat penting untuk melindunginya. Saya bertemu dengan Park Dewang dan dia sudah memberitahukan. Dari ceritanya, cara pemakaiannya, dan cara penggunaannya, vaksin ini jauh lebih aman. “Dia menjelaskan.

Vaksin Nusantara sendiri dikembangkan berdasarkan sampel dari masyarakat Indonesia, dan DNA-nya tidak jauh berbeda. Dia berkata: “Jadi jika Anda melihat DNA orang Indonesia, saya berharap semuanya akan lebih baik.”

Harapannya, penelitian vaksin di Indonesia bisa dipercepat. Pihaknya siap memantau akselerasi agar masyarakat bisa segera memanfaatkannya. Oleh karena itu, hasil yang baik harus diraih pada semua tahapan yang telah dijalankan dan harus didukung dan dilindungi sepenuhnya oleh negara.

Dia menyimpulkan: “Ini berarti prosedur yang sedang berjalan dan hasil yang baik. Pemerintah harus melindungi dan negara harus melindungi ini agar kita bisa merdeka. Dengan begitu, kita tidak akan lagi bergantung pada negara lain.”

Vaksin Nusantara adalah vaksin yang dibuat berdasarkan sel dendritik individu dan dikatakan sebagai vaksin pertama di Indonesia. Cara kerja vaksin ini adalah penerima vaksin yang dituju akan mengambil darah dan mengambil sel darah putih dan sel dendritik.

Setelah itu, sel dendritik autologus dipaparkan dengan antigen protein S. SARS-CoV-2. Sel dendritik yang mampu mengenali antigen akan divaksin kembali ke dalam tubuh. Di dalam tubuh, sel ini akan memicu sel imun lainnya untuk membantu membentuk sistem pertahanan terhadap SARS-CoV-2.

Vaksin Nusantara merupakan gagasan Terawan Agus Putranto, mantan Menteri Kesehatan. Vaksin tersebut telah dikembangkan sejak akhir tahun 2020 dan kini telah lolos pengujian tahap pertama. Pada pengujian tahap pertama, vaksin telah diujicobakan pada 27 orang. Dari 27 orang tersebut, 20 diantaranya mengalami efek samping ringan, seperti nyeri di tempat suntikan.

6. Kemenkes Monitor Perkembangan Vaksin Nusantara

Sumber : cnnindonesia.com

Siti Nadia Tarmizi, juru bicara vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, mengatakan Kementerian Kesehatan masih memantau perkembangan uji klinis vaksin Nusantara.

Nadia, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, mengatakan: Vaksin Nusa Tara masih dalam uji klinis, jadi masih dalam lingkup peneliti.

Dia menambahkan: “Kami hanya memantau kemajuan yang dilaporkan oleh tim peneliti.”

7. Bila lolos pengujian bisa produksi 10 juta vaksin per bulan

Sumber : kompas.com

Terawan berharap vaksin Nusantara bisa diproduksi secara massal setelah semua tahapan telah lolos uji klinis.

Ia mengatakan: “Untuk individu, ternyata produksi massal mereka bisa mencapai 10 juta per bulan di masa mendatang, dan diperkirakan kemandirian vaksin akan tercipta.”

Baca juga : 7 Fakta Penting Virus Corona Yang Wajib Diketahui

8. Vaksin Nusantara Diklaim Lebih Murah

Sumber : solopos.com

Terawan Agus Putranto mengembangkan vaksin Indonesia yang diproduksi di Jateng. Selain Terawan, vaksin tersebut diproduksi bekerjasama dengan PT Rama Emerald Multi Sukses, AIVITA Biomedical di AS, Universitas Diponegoro dan RS Kariadi Semarang.

Saat ini vaksin Indonesia dikatakan lebih aman dibanding vaksin lainnya. Vaksin ini juga dikenal sebagai AV-Covid-19, dan juga dapat digunakan untuk pasien dengan penyakit penyerta yang dikeluarkan dari tahap pertama vaksinasi.

Yetty Movieta, perwakilan dari Kelompok Riset Vaksin Indonesia, mengatakan hampir 100% vaksin rumahan dikembangkan oleh penduduk setempat.

Ia mengatakan: “90% penelitian dan pengembangan vaksin ini dibuat sendiri (di dalam negeri). Kita kerja sama dengan perusahaan Amerika hanya untuk reorganisasi antigen, tapi ini untuk manajemen,” kata RSUP Dr. Kariadi Semarang. Di kata Surajwatenga, Jumat (19/2/2021).

Yetty mengatakan vaksin Indonesia memiliki kelebihan atau kelebihan dibandingkan dengan vaksin lain yang beredar saat ini. Selain dinilai aman, harga vaksin ini juga lebih murah.

Dia berkata: “Jika dihitung kemarin, (harganya) sekitar $ 10, atau kurang dari Rs 200.000.”

Selain itu, vaksin tersebut aman digunakan karena diambil dari komponen sel darah pasien atau calon penggunanya.