Sumber : tribunnews.com

Terima Salah Transfer Rp 51 Juta dari BCA, Kini Ardi Di Penjarakan

Terima Salah Transfer Rp 51 Juta dari BCA, Kini Ardi Di Penjarakan – Seorang dealer mobil di Ardi Pratama Surabaya dipenjara karena salah menggunakan dana Rp 51 juta dari Bank BCA. Petugas backstage BCA mentransfer puluhan juta rupiah dengan salah memasukkan huruf pertama NK dari nomor rekening tersebut.

Terima Salah Transfer Rp 51 Juta dari BCA, Kini Ardi Di Penjarakan

Sumber : tribunnews.com

cerrrca – Aldi yakin uang yang diterimanya pada 17 Maret 2020 itu merupakan komisi penjualan mobil tersebut, sehingga ia menggunakan uang tersebut.

Meski sudah berusaha mengembalikan uang tersebut, dia tetap melaporkan Aldi ke polisi dan kasusnya sedang dalam proses persidangan.

1. Awal Mula Ardi Dipenjara

Sumber : kompas.tv

Pengacara Ardi Pratama R Hendrix Kurniawan menjelaskan kasus tersebut menimpa kliennya dan dimulai pada 17 Maret 2020. Awalnya, BCA menyetorkan setoran kliring ke rekening Ardi.

Pengiriman uang dilakukan oleh back office BCA berinisial NK. NK memasukkan dua digit setelah nomor rekening yang diakui NK salah.

Total transfer kliring dari BI adalah Rp 51 juta yang sudah masuk ke rekening Ardi. Namun, Aldi yakin uang itu merupakan komisi penjualan mobil. Uang itu akhirnya digunakan untuk berbelanja.

Hendricks mengatakan kepada kompas.com: “Dia adalah dealer mobil karena saat diperiksa identitas pengirimnya tidak ada, hanya BI yang kliring.

Terakhir, uang itu digunakan untuk belanja dan melunasi utang serta keperluan lainnya.” Pada tanggal 27 maret, BCA mengetahui bahwa mereka melakukan kesalahan transfer. Ini setelah ada keluhan dari piutang pengiriman uang.

Di hari yang sama, saya dan petugas BCA yang diwakili NK mendatangi rumah Ardi. Belakangan, mereka berdua adalah wartawan dan saksi.

Kedatangan dua orang pegawai bank ini memberi tahu mereka bahwa salah transfer dana ke rekening Ardi. Petugas bank meminta Ardi mengembalikan semua uang itu.

Saat itu, Ardi tahu sumber dananya bukan dari komisi penjualan mobil.

Ardi mengatakan kepada NK dan saya bahwa mereka hanya dapat mengembalikan dana yang digunakan untuk pembayaran cicilan karena pandemi dimulai saat itu.

Dia berkata: “Pada saat itu, dengan tawaran dan permintaan Ardi (pembayaran dengan cicilan), wartawan tidak menginginkannya, mereka menginginkan uang tunai.”

Setelah kedua karyawan itu datang, Aldi mendapat panggilan dari BCA keesokan harinya. Bagian hukum BCA langsung mendatangi kediaman Ardi.

BCA kembali menuntut agar remitansi yang salah dikembalikan secara penuh sebesar Rp 51 juta. Ia mengatakan: “Kemampuan nasabah lama kami hanya membayar dengan mencicil. Saat itu, rekening nasabah saya diblokir secara sepihak (diblokir) oleh BCA.”

Kemudian pada awal April 2020, Aldi kembali menerima panggilan kedua dan mendesak agar uang segera dikembalikan.

Kemudian, Ardi menghubungi BCA dan berusaha meminta keringanan agar pembayaran bisa dicicil.

Untuk menunjukkan kesungguhan, Ardi menyetorkan uang tunai 5 juta rupiah ke rekening BCA pribadinya, sehingga menyetor sekitar 10 juta rupiah.

Setelah April hingga Agustus, Ardi tidak akan lagi memberikan kabar kepada BCA.

Pada akhir Agustus, pelapor NK menerbitkan laporan polisi, yang pada dasarnya bahwa Ardi di duga sengaja menggunakan uang yang ditransfer karena kesalahan yang diketahui.

Ardi terus berupaya untuk bisa mengembalikan uang tersebut, tepatnya pada Oktober 2020. Saat itu Ardi sedang mencari Rp 51 juta sesuai dengan kebutuhan BCA. Kemudian, nasabah mendatangi kantor BCA untuk mengembalikan uang tersebut. “Anehnya, BCA tidak diterima.

Sebaliknya, mereka disuruh menyerahkannya kepada NK (reporter). Klien saya sangat bingung. Ini disebabkan hubungan hukum diperintahkan oleh BCA dan ketika mereka ingin mengembalikan hubungan tersebut, mereka menolak dan meminta untuk menyerahkannya kepada individu, ”kata Hendrix.

Hendrix juga menanyakan kasus hukum apa yang dilaporkan BCA kepada kliennya.

Ia menjelaskan: “Klien saya bertanya pada pegawai BCA saat itu. Ada yang menjelaskan bahwa BCA dan Ardi baik-baik saja karena NK sudah melunasi uangnya melalui dana pensiun.”

Ia yakin, jika kasusnya ingin diselesaikan dengan baik, BCA harus menemui nasabahnya dengan wartawan.

Kemudian, pada 10 November 2020, Adi resmi ditetapkan sebagai tersangka pidana dan ditahan sesuai dengan Pasal 855 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 dan Undang-Undang Nomor 4 TPPU Tahun 2010. Kasus Ardi sudah memasuki tahap persidangan dan sudah memasuki tahap luar biasa.

Baca juga : Teknologi Pencegah Banjir di Sejumlah Negara

2. Berusaha mengembalikan uang

Sumber : regional.kompas.com

Pengacara Ardi Pratama, R Hendrix Kurniawan, mengatakan bahwa sebenarnya kliennya bermaksud mengembalikan uang tersebut, namun ia tidak dapat mencairkannya.

Karena menurutnya uang itu digunakan sebagai komisi penjualan mobil, sudah digunakan untuk belanja dan pembayaran utang. Apalagi pada saat dilakukan pemeriksaan, tidak ada identitas pengirim.

“Saat itu atas penawaran dan permintaan Ardi (pembayaran dengan cicilan), pelapor tidak menginginkannya. Mereka meminta uang tunai.” Kata Hendrix dalam sambungan telepon yang pada Rabu (02/2/2), BCA juga memerintahkan Ardi. untuk mengembalikan uang dua kali.

Surat perintah penangkapan kedua dikeluarkan pada April 2020, dan Ardi melaporkannya ke polisi pada Agustus 2020. “Kemampuan pelanggan lama kami hanya membayar dengan mencicil.

Saat itu, akun klien saya diblokir secara sepihak (diblokir) oleh BCA. “Menurutnya, hal itu sebenarnya disebabkan kesalahan NK, karena salah memasukkan nomor rekening dua digit.

Saat dihubungi lewat telepon genggam, Rabu (24/2/2021), Hendricks mengatakan: “Ini bukan alasan. Kalau namanya berbeda, saya kira akan berbeda di mana-mana.”

3. Kembalikan ke BCA, tetap diproses hukum

Sumber : nasional.kompas.com

Ardi akhirnya mengumpulkan 51 juta rupiah dan kembali ke BCA pada Oktober 2020 untuk mengembalikan uang tersebut. Ternyata, BCA menolak. “Mengejutkan ternyata BCA tidak diterima.

Sebaliknya, dia disuruh menyerahkannya kepada NK. Klien saya sangat bingung. Pasalnya, hubungan hukum diperintahkan oleh BCA, dan ketika mereka ingin mengembalikannya ditolak dan diminta untuk diserahkan kepada orang tersebut.

Hendrix juga kaget, seharusnya BCA memberi fasilitasi pertemuan dengan NK untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tetapi, ternyata Ardi masih tetap saja mendapat laporan ke polisi.

4. Kini masuk persidangan

Sumber : surabaya.kompas.com

Aldi resmi ditetapkan sebagai tersangka pada 10 November 2020 dan langsung ditangkap. Igede Willy Pramana menjelaskan, persidangan terdakwa mulai masuk agenda eksepsi.

Willie mengatakan: “Agenda besok adalah balasan atau pengecualian dari jaksa.” Aldi dituduh menggunakan uang yang belum tentu haknya.

Dia menjelaskan: “Jika dia tulus, jika transfernya salah, mohon konfirmasi hak saya. Harap pastikan sebelum menggunakan.”

Baca juga : Fakta Kasus Pembunuhan Pegawai Bank Di Bali

5. Tanggapan BCA

Sumber : theiconomics.com

Kunjungan ke Kantor Wilayah (Kanwil) BCA Darmo dan pejabat tersebut menyarankan agar mereka mengunjungi KCU BCA Hr Muhammad dan KCP BCA Citraland.

Seorang pegawai bank bernama Zainuri tiba di KCP BCA Citraland dan mengaku NK telah dipindahkan ke cabang BCA lain. Zainuri takut membuat pernyataan karena tidak mendapat izin dari pimpinan.

Zainuri kemudian menyarankan agar dirinya kembali ke kantor wilayah BCA Darmo untuk bertemu dengan bagian hukum. Ia juga enggan berhubungan dengan pimpinan KCP BCA Citraland.

Kasir BCA KCP Citraland mengatakan: “Silakan langsung ke kantor wilayah dan bertemu dengan firma hukum yang menangani kasus ini. Saya tidak bisa bicara karena kita baru dan pelapor sudah pindah. Selain itu, pimpinan kita sedang berlibur.”

shares